MediaLangit.id - New York, 1 April 2026 – Indonesia sampaikan amarah dan duka cita mendalam atas gugurnya tiga personel penjaga perdamaian di Lebanon yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dalam dua hari berturut-turut
Ungkapan tersebut disampaikan Wakil Tetap Indonesia untuk PBB Umar Hadi kala mengawali pernyataannya di rapat darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) di New York, Selasa (31/1) waktu setempat. Ia mengatakan bahwa seluruh rakyat Indonesia merasa marah dan kehilangan atas insiden tersebut.
"Terima kasih karena telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyampaikan rasa duka, amarah, dan frustrasi 285 juta penduduk Indonesia. Kami yakin, perasaan ini juga dirasakan oleh seluruh warga dunia yang memandang pasukan perdamaian sebagai simbol harapan dan perdamaian," ujar Umar.
Baca Juga: Perang AS-Iran Pecah, Guru Besar IPB Yakin Ketersediaan dan Produksi Pangan Indonesia Aman
Kemudian, Umar juga menyebut satu per satu nama serta usia personel yang gugur di forum tersebut sebagai bentuk penghormatan tertinggi bagi personel Indonesia yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon. Ketiga personel tersebut adalah Kapten Infanteri Zulfi Aditya Iskandar (33), Sertu Muhammad Nur Ichwan (25), dan Praka Farizal Rhomadon (27).
Ia juga menyampaikan bahwa ketiganya gugur dalam misi mulia, di mana Zulfi dan Ichwan gugur kala mengantar logistik di Bani Hayyan sementara Farizal gugur kala memenuhi kewajibannya di dekat Adchit Al Qusayr.
Selain itu, lima prajurit perdamaian Indonesia yang terluka juga disebutkan, yakni Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana, Praka Rico Pramudia, Praka Arif Kurniawan, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Deni Rianto.
"Kami tidak dapat menerima terbunuhnya penjaga perdamaian tersebut. Ini adalah kehilangan besar bagi Indonesia dan juga kehilangan besar bagi kita semua," lanjutnya.
Baca Juga: Hassan Wirajuda Sebut Prabowo Petakan Navigasi Indonesia di Tengah Konflik: Itu Tidak Mudah
Kemarahan Indonesia di forum tersebut bukan tanpa alasan. Umar menjelaskan bahwa para prajurit perdamaian menjadi sasaran serangan ketika mereka sedang menjalankan mandat yang diberikan oleh Dewan Keaman itu sendiri.
Oleh karena itu, Indonesia mengutuk keras serangan-serangan tersebut sekaligus meminta pihak-pihak yang relevan untuk memulangkan jenazah personel yang gugur dengan cepat, aman, dan bermartabat.
"Serta meminta perawatan medis terbaik dan komprehensif terhadap lima penjaga perdamaian yang terluka untuk menjamin pemulihan cepat dan penanganan menyeluruh," imbuh Umar.
Dalam forum tersebut, Indonesia turut menyoroti meningkatnya serangan terhadap personel UNIFIL dalam beberapa waktu terakhir seiring memanasnya konflik di Lebanon selatan.
Menyikapi hal tersebut, Indonesia menilai bahwa serangan beruntun itu bukan sekadar insiden, melainkan tindakan yang disengaja untuk melemahkan dan menggagalkan mandat UNIFIL sebagaimana diatur dalam Resolusi DK PBB 1701 terkait gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah.
Artikel Terkait
Konflik Iran Vs AS-Israel Memanas, Pemerintah Siapkan Evakuasi 15 WNI dari Teheran
Menlu: Indonesia Hubungi AS dan Iran, Siap Jadi Mediator Konflik Timur Tengah
Undang Mantan Presiden hingga Eks Menlu, Prabowo Dengar Masukan Terkait Situasi Geopolitik Terkini
Di Hadapan Mantan Presiden, Wapres, dan Tokoh Nasional, Prabowo Bahas Konflik Iran hingga Board of Peace
Hassan Wirajuda Sebut Prabowo Petakan Navigasi Indonesia di Tengah Konflik: Itu Tidak Mudah
Perang AS-Iran Pecah, Guru Besar IPB Yakin Ketersediaan dan Produksi Pangan Indonesia Aman
Bocah 8 Tahun Hilang dan Diduga Tenggelam di Sungai DAM Colo Karanganyar, Warga Bahu-membahu Menyisir Lokasi
Viral Warga Ngamuk dan Blokir Rel karena Mobilnya Tertemper Kereta di Lampung, KAI Ingatkan soal Pihak yang Bertanggung Jawab pada Perlintasan
Cerita Warga Cikarang Selatan saat Hujan Badai Menerjang di Awal Minggu: Bener-bener Takut dan Gemetaran saat Kejadian
Viral Cerita Keluarga Pasien, Neneknya Sudah Sesak Napas tapi Petugas Pendaftaran di Klinik Justru Diduga Asyik Main Game