Minggu, 19 April 2026

Akademisi Nilai Prinsip Bebas Aktif Perkuat Posisi Indonesia di Kancah Internasional

Photo Author
Tim MediaLangit, Media Langit
- Kamis, 16 April 2026 | 10:26 WIB
Presiden Prabowo bersama Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pertemuan di Kremlin (Bakom RI)
Presiden Prabowo bersama Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pertemuan di Kremlin (Bakom RI)

MediaLangit.id - Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sidik Jatmika menegaskan bahwa prinsip politik luar negeri bebas aktif menjadi fondasi utama Indonesia dalam merespons dinamika global yang semakin kompleks, khususnya di tengah meningkatnya ketegangan internasional akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Baca Juga: Mengenal 'The Beast', Mobil Kepresidenan Amerika Serikat yang Ditumpangi Trump dan Putin di Alaska

“Dari situ lahir politik luar negeri bebas aktif, di mana Indonesia tidak memihak, namun berperan sebagai bagian dari solusi dalam setiap konflik internasional,” ujarnya.

Sidik menjelaskan bahwa dalam merumuskan kebijakan luar negeri, Indonesia tidak hanya mempertimbangkan dinamika global, tetapi juga memperhitungkan kondisi domestik.

Ia menyebutkan terdapat tiga faktor utama yang menjadi dasar dalam pengambilan keputusan, yakni situasi politik dalam negeri, kondisi ekonomi dan keamanan nasional, serta perkembangan geopolitik internasional.

Menurutnya, secara ideologis dan konstitusional, Indonesia memiliki mandat kuat untuk tetap berada pada posisi netral tanpa berpihak pada kekuatan global tertentu.

Baca Juga: Kepala Bakom RI: Buku Saku 0% adalah Semangat Besar Prabowo Hilangkan Kemiskinan di Indonesia

Prinsip ini berakar dari nilai-nilai Pancasila dan amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan pentingnya menjaga kedaulatan bangsa sekaligus berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia yang berkelanjutan.

Indonesia telah lama menjadi bagian dari upaya internasional dalam menjaga stabilitas global, termasuk melalui pengiriman pasukan perdamaian ke sejumlah wilayah konflik seperti Kongo, Sudan, dan Lebanon Selatan sebagai bentuk misi perdamaian dunia.

Sidik menilai bahwa langkah ini menunjukkan konsistensi Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri bebas aktif, di mana negara tidak hanya menjaga kepentingan nasional, tetapi juga turut berkontribusi dalam menciptakan tatanan dunia yang lebih damai dan stabil.

Baca Juga: Prabowo: Ada Pengusaha Nakal 8 Tahun Menambang Tanpa Izin, Pidanakan!

Ia menilai bahwa peran Indonesia sebagai negara yang tidak terikat pada blok kekuatan tertentu memberikan ruang yang lebih luas untuk menjadi mediator atau jembatan dialog antarnegara yang berkonflik.

“Dalam situasi seperti ini, penyelesaian melalui dialog dan diplomasi menjadi pilihan yang lebih rasional dibandingkan konflik terbuka,” jelasnya.

Di sisi lain, Sidik juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi dampak dari ketidakpastian global, baik dari sisi ekonomi, keamanan, maupun sosial.

Halaman:

Editor: Nafis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X