Minggu, 19 April 2026

Wacana Sekolah Online di April 2026 Batal, Belajar Tatap Muka Dinilai Penting untuk Hindari 'Learning Loss'

Photo Author
- Kamis, 26 Maret 2026 | 15:29 WIB
Menyoroti penuturan Menko PMK, Pratikno terkait batalnya rencana sekolah online pada bulan April 2026.  (Instagram.com / @jakut.info - @pratikpratikno)
Menyoroti penuturan Menko PMK, Pratikno terkait batalnya rencana sekolah online pada bulan April 2026. (Instagram.com / @jakut.info - @pratikpratikno)

MediaLangit.id - Sebagian publik di Tanah Air sempat ramai menyoroti wacana kegiatan belajar mengajar bagi siswa sekolah yang akan kembali dilakukan secara daring mulai April 2026.

Baca Juga: Kepala BGN Tantang SPPG Sajikan Menu MBG dengan Kualitas Bintang 5, tapi Bahan Bakunya Masih di Angka Rp10 Ribu

Rencana tersebut sebelumnya sempat mencuat sebagai bagian dari kebijakan efisiensi atau strategi penghematan energi atau pun bahan bakar minyak (BBM) yang tengah dikaji pemerintah.

Kendati demikian, kini pemerintah justru memastikan proses pembelajaran siswa akan tetap dilaksanakan secara luring atau tatap muka.

Hal itu mengingat, sektor pendidikan dinilai tetap menjadi prioritas utama.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno mengungkapkan hasil koordinasi lintas kementerian menunjukkan, pembelajaran tatap muka harus tetap dijaga demi memastikan kualitas pendidikan tidak menurun.

"Proses pembelajaran harus semakin optimal dan jangan sampai timbul learning loss," kata Pratikno dalam keterangannya, pada Rabu, 25 Maret 2026.

"Oleh karena itu, diutamakan penyelenggaraan proses pembelajaran tetap berjalan secara luring bagi siswa," tambahnya.

Berkaca dari hal itu, lantas apa sebenarnya alasan di balik batalnya wacana sekolah online yang sempat mencuat ke permukaan? Berikut ulasannya.

Baca Juga: Baru Terungkap Sekarang, Vidi Aldiano Pakai Gelang Rumah Sakit dan Selang Infus saat Menyanyi di Panggung

Belum Jadi Hal yang Mendesak

Pratikno menjelaskan, kebijakan pembelajaran secara daring belum menjadi kebutuhan mendesak untuk saat ini.

Meski begitu, Menko PMK mengakui sebelumnya sempat ada pembahasan terkait kemungkinan penerapan metode hybrid, yakni kombinasi antara pembelajaran luring dan daring.

setelah melalui pembahasan bersama kementerian terkait seperti Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta Kementerian Agama (Kemenag), opsi tersebut tidak dianggap sebagai prioritas.

Halaman:

Editor: Ronggo Media Langit

Sumber: Promedia Teknologi Indonesia, Instagram

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X